
Sabtu,
19 Mei 2007 telah ditemukan Ikan Raja Laut, jenis ikan purba yang
dikenal dengan sebutan coelacanth (Coelecanth latemeria), dekat Pantai
Malalayang, Manado, Sulawesi Utara. Penemuan ikan coelecanth di perairan
Sulawesi Utara ini, merupakan penemuan kedua kalinya, setelah penemuan
pertama terjadi pada 1998 di Pantai Manado Tua. Ikan, dengan panjang
sekitar 130 cm, lebar 46 cm dengan bobot sekitar 50 kg, yang dianggap
sudah punah 65 juta tahun silam ini ditemukan hidup-hidup oleh Yustinus
Lahama dan anaknya Delfi Lahama, nelayan dari Kelurahan Bahu Kecamatan
Malalayang.
Yustinus dan anaknya pada hari itu, pergi kelaut
untuk memancing ikan untuk dikonsumsi sendiri. Setelah sekitar 5 menit
menenggelamkan umpan ikan malalugis dikedalaman kira-kira 70 meter,
mereka merasa kail tersangkut sesuatu yang besar. Setelah diangkat,
mereka melihat ikan besar berwarna gelap berbintik-bintik putih
tersangkut pada mata kail. Diceritakan oleh Yustinus "Saat tersangkut,
ikan tersebut tampak tidak melakukan perlawanan, tetapi setelah diangkat
dan ditaruh dalam perahu ikan itu berontak hingga merusak beberapa
barang dalam perahu".
Yustinus awalnya tidak mengetahui jenis
ikan apa yang baru saja ia peroleh, bahkan ia sempat akan memotong dan
mengkonsumsi ikan tersebut. Secara kebetulan Darwin Papendeng karyawan
Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi datang dan berhasil mencegah
ikan itu dipotong. Darwin Papendeng mengenali ikan coelacanth itu,
dengan segera ia menghubungi Dinas Perikanan Propinsi, Dinas Pariwisata
dan media massa di Sulawesi Utara untuk mengabarkan penemuan coelacanth.

Penemuan
ikan ini sangat menarik bagi Gubernur Sulawesi Utara Drs Sinyo H
Sarundajang dan Menteri Perikanan dan Kelautan Freddy Numberi, yang
kebetulan hari itu berada di Manado. Awalnya ikan ini ditaruh di Bahu
Mall, tetapi untuk mempertahankan hidupnya agar bisa lebih lama,
coelacanth segera dipindahkan ke kolam yang lebih baik, di rumah makan
City Extra Kalasey.
"Penemuan ini membuat Sarundajang menjadi
sangat terobsesi dan berencana menjadikan ikan coelacanth ini sebagai
maskot pada World Ocean Conference di Manado tahun 2009 mendatang,"
dipaparkan Angelique Batuna, Project Leader WWF-Indonesia Bunaken
Program.
Sangat disayangkan, ikan coelacanth tersebut akhirnya
mati pada hari Minggu 20 Mei 2007 pk. 01.00 WITA setelah sekitar 17 jam
bertahan hidup. Kini ikan tersebut sedang dalam proses pengawetan dan
akan digunakan untuk penelitian.
Untuk mengetahui lebih spesifik
tentang ikan tersebut, pemerintah kota Manado dan beberapa instansi
terkait, sedang menunggu kedatangan seorang icthyologist (ahli ikan) dan
hasil observasinya akan dipublikasikan dalam sebuah konperensi pers
minggu depan.
Coelacanth (pisces latimeriidae) pertama kali
muncul dalam kehidupan sekitar 400 juta tahun silam dalam bentuk fosil.
Setelah sekitar 70 juta tahun lalu ikan ini tidak ditemukan lagi,
sehingga para ahli menduga ikan itu telah punah. Ikan purba ini
panjangnya bisa mencapai 2 meter dengan berat 100 kilogram. Ikan ini
tidak bertelur, tapi melahirkan anak.
Ikan Coelacanth ditemukan
pertama kali pada 23 Desember 1938 dari Laut India, tak jauh dari mulut
Sungai Chalumna oleh Kapten Hendrick Goosen. Lalu oleh, kurator museum
di East London, Marjorie Courtenay Latimer, ikan tersebut diserahkan
kepada ahli ikan dari Universitas Rhodes, Prof. J.L.B. Smith. Maka
akhirnya Untuk menghormati jasa Latimer dan Smith, ikan purba itu diberi
nama Latimeria chalumnae smith. Habitat ikan Raja Laut ini diperkirakan
berada pada kedalaman laut lebih dari 150 meter, perairan Kepulauan
Komoro, sebelah barat Madagaskar. Tetapi sampai tahun 1990-an, beberapa
individu tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar, dan Afrika
Selatan dan pada 1998 untuk pertama kali tertangkap coelecanth spesies
baru Coelacanth latimeria menadoensis pada jaring nelayan di perairan
Manado Tua, Sulawesi Utara, yang spesimennya kini tersimpan di Museum
Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong.
Coelecanth sejak
18 Januari 1980 telah dimasukkan dalam Appendix I CITES (Convention on
International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), yang
menyatakan ikan ini tidak boleh diperdagangkan antarnegara. Coelacanth
berasal dari kata-kata Yunani; coelia (berongga) dan acanthus (duri),
yang berarti ikan dengan duri berongga dan tergolong ke dalam ordo
Coelacanth hiformes. Dipaparkan oleh Ika Rachmatika S., dkk., dari Pusat
Penelitian Biologi LIPI ada perbedaan karakter morfologi dan genetika
antara Coelecanth latimeria chalumnae yang ditemukan di Kepulauan Komoro
dan Coelecanth latimeria menadoensis yang ditemukan di Manado.
Perbedaan Latimeria chalumnae (Kepulauan Komoro) dan Latimeria menadoensis (Manado)
Jenis Perbedaan Latimeria chalumnae Latimeria menadoensis
1.
morfologi dan genetika berwarna kebiruan dengan noda putih yang tidak
beraturan pada sisiknya berwarna kecokelatan dengan noda putih yang
tidak beraturan pada sisiknya
2. karakter meristik memiliki jumlah
jari-jari pada sirip punggung kedua yang banyak, namun memiliki jumlah
jari-jari sirip ekor tambahan sedikit. memiliki jumlah jari-jari pada
sirip punggung kedua sedikit, namun memiliki jumlah jari-jari sirip ekor
tambahan yang banyak.

Coelacanth
merupakan jenis ikan dengan karakter yang berbeda dengan ikan lainnya.
Coelacanth memiliki "rostral organ" pada bagian pernapasan sebagai
sistem electrosensory, dan engsel pada tengkorak yang memudahkan bagian
depan tempurung kepala untuk bergerak lebih cepat, sehingga juga
memperluas terbukanya mulut saat bernapas. Karekter ini tidak dimiliki
oleh vertebrata lain. Keunikan lain termasuk lubang pengisi cairan
"notocord" (yang biasa dimiliki oleh vertebrata primitif), hal ini
memperkuat tulang belakang dan panjangnya tubuh.